Kita sering mendengar cerita yang masyhur iaitu ASHABUL KAHFI namun tak ramai yang tahu tentang cerita ASHABUL UKHDUD. Saya sendiri semasa kecil selalu di sogok dengan cerita tentang pemuda-pemuda Kahfi tetapi ketika saya melangkah ke usia dewasa saya baru saya tahu tentang cerita ini...
ASHABUL UKHDUD
ASHABUL UKHDUD
Kota Sana ibu negeri Yaman
purbakala, dimana duduk bertakhta seorang raja berugama Yahudi yang sangat
fanatik, yang bernama Zu Nuwas, sedang bermandikan terik panas matahari,
ditambah lagi oleh panas gurun Sahara yang terdiri dani lautan pasir, sehingga
hawa udaranya memuncak panas tidak terkira. Tidak hairan kalau di hari itu
semua jalanraya menjadi sunyi sepi, seluruh desa dan kota hening tenang tak
bergerak sedikit juga kerana angin pun tidak berhembus.
Ke
arah mana saja kita menoleh, tidak ada seorang manusia pun yang tampak keluar
dari rumah mereka masing-masing. Desa dan kota merupakan desa dan kota yang
mati layaknya, sekalipun kota dan negeri itu adalah kota yang terbesar dan
teramai di seluruh dunia Arab di masa itu.
Tiba-tiba
dari utara kota tersebut, muncul seorang lelaki yang sedang berjalan menuju ke
tengah kota ke arah istana raja. Tampaknya orang itu datang dari tempat yang
jauh sekali menempuh padang pasir yang terik, di bawah sinar matahari yang
luarbiasa panasnya itu.
Setibanya
di dalam kota Sana, langkahnya agak tertegun, hati dan dadanya tampak
berdebar-debar, syak dan ragu-ragu; kedua matanya penuh dengan bayangan
kehairanan dan keraguan. Langkah kakinya mulai tak seimbang lagi, maju-mundur
yang tidak diketahui sebab-musababnya.
Tampak
nyata bahawa orang itu menyimpan rahsia besar dalam dadanya. Kalau tidak rahsia
besar, pasti ada urusan penting yang maha penting yang sedang direncanakannya.
Setelah
dekat ke istana raja, tiba-tiba dia ditegur oleh penjaga istana: "Untuk apa
engkau datang ke istana ini di waktu terik panas matahari yang begini rupa, di
kala semua manusia sama-sama melindungkan diri dari panas yang terik ini?
Jangankan manusia, binatang dan burung pun sama-sama tidak kelihatan
berkeliaran kerana panasnya hawa."
Orang
lelaki itu menjawab: "Saya datang membawa kabar hebat, urusan penting yang
perlu saya laporkan kepada Raja Zu Nuwas."
Penjaga
berkata lagi: "Raja sedang sibuk, tidak akan sempat bertemu denganmu dan
dengan siapa juga. Sekalipun raja sudah beres dengan kemenangan besar dalam
memerangi bangsa Syanatir dan telah berhasil menguatkan kedudukannya di kota
Sana ini dan telah berhasil pula mengembalikan kedudukan bangsa Yahudi ke
tempat yang selayaknya, tetapi sekarang ini raja sedang bersiap-siap pula untuk
menggerakkan perang dahsyat lagi ke negeri-negeri yang jauh, kerana raja tidak
senang sebelum seluruh manusia Timur dan Barat semuanya masuk berugama Yahudi.
Petang
ini, setelah matahari terbenam dan udara menjadi agak dingin kembali, raja akan
keluar ke kebun bunga ltu, dengan diiringi oleh semua pengiring dan para
menterinya, pembesar-pembesar kerajaan dan kepala-kepala staf angkatan
perangnya yang selalu setia kepadanya, untuk bermesyuarat tentang siasat perang
yang harus dijalankan guna menyebarkan Ugama Yahudi di seluruh pelosok alam
ini."
Mendengar
keterangan itu, orang itupun berkata: "Kedatangan saya ini tidak jauh
maksudnya daripada niat raja itu. Saya tidak akan datang menghadap di kala
terik panas matahari begini, kalau tidak kerana untuk kepentingan ugama yang
kita cintai itu. Kalau tuan sudi memberitahukan kedatangan saya ini kepada
raja, saya percaya bahawa raja akan memanggil saya masuk dan pasti raja akan
mementingkan laporan saya ini."
Sambil
menunggu jawapan dari dalam istana, orang itu pun duduk bernaung di bawah atap
istana, menghindarkan teriknya panas matahari.
Tidak
lama berselang, Raja Zu Nuwas dengan diiringkan para pengawal,
pembesar-pembesar pemerintahan dan kepala-kepala perangnya, keluar dari istana
menuju ke tamannya yang indah untuk meneruskan sidang yang berat. Pengawal
itupun segera datang memberi kabar kepada raja: "Seorang musafir dari
daerah Najran, ingin bertemu dan akan memberi laponan tentang keadaan Najran,
iaitu laporan yang amat penting."
Lelaki
musafir yang sudah menunggu-nunggu itupun tampil ke hadapan raja, lalu
memberikan laporan dengan berkata: "Ya, rajaku yang mulia. Mudah-mudahan
Tuhan melindungi tuan dan kerajaan, serta selalu dapat menghancurkan musuh
Ugama Yahudi yang kita cintai, juga mendapat taufik dan hidayah Tuhan dalam
mempertahankan agama kita. Saya datang bukanlah untuk meminta dan mengharapkan
hadiah, tetapi sengaja membawa khabar tentang daerah Najran, dimana sekarang
ini telah tersebar ugama baru, yang makin lama makin ramai pengikutnya, mungkin
akan merata ke seluruh Yaman dan seluruh dunia, mengalahkan ugama kita sendiri.
Ugama baru itu dinamakan orang Ugama Nasrani (Krisitian)."
Dengan
terperanjat, lalu raja berkata kepada musafir itu: "Sungguh mengejutkan
benar berita yang kau bawa ini. Terangkanlah kepadaku dari awal sampai akhirnya
tentang agama baru itu!"
Musafir
itu meneruskan ceritanya dan laporannya: "Ugama baru itu adalah
berdasarkan ajaran Nabi Isa al-Masih. Telah banyak orang-orang yang mulanya
menyembah berhala-hala memasuki ugama baru itu dan orang-orang yang berugama
Yahudi pun sudah banyak pula yang masuk."
"Bagaimana
cara masuknya ugama baru itu ke Najran?" raja meningkah pembicaraan
musafir itu.
"Mula-mula
sekali masuk ke Najran dua orang lelaki. Yang pertama bangsa Rumawi, Fimiyun
namanya dan yang bangsa Arab, Saleh namanya. Adapun Fimiyun itu sebagai budak
yang dibeli oleh seorang penyembah korma. Ternyata kepada pembeli itu, bahawa
budak yang bernama Fimiyun itu sangatlah baik perangainya, penuh dengan
ketenangan dan kesabaran, tidak pernah mengeluh dan melukai perasaan orang
lain. Setiap harinya dia senantiasa bekerja dengan rajin dan setiap petang dia
bertekun dalam kamarnya, bersembahyang dan menyembah Tuhan.
"Pada
suatu malam tuannya itu masuk ke karnar Fimiyun, didapati kamarnya itu
terang-benderang tetapi tidak ada lampunya. Tuannya menjadi hairan dan bertanya
tentang ugamanya. Budak itu menerangkan, bahawa ia beragama Nasrani, menyembah
Allah yang Maha Esa menurut apa yang diajar Nabi Isa al-Masih kepada-Nya.
"Adapun
korma yang engkau sembah itu, kata Fimiyun kepada tuannya, tidak dapat berbuat
apa-apa, tidak dapat mengabulkan doamu. Adapun Allah yang Maha Esa yang saya
sembah ini dapat mengabulkan semua doa dan sanggup atas segala-galanya.
"Kalau
tuan suka beriman, kata Fimiyun selanjutnya, saya akan mendoa, dimana ternyata
nanti bahawa Tuhan yang saya sembah lebih berkuasa dari korma yang tuan sembah
itu."
"Berdoalah
engkau," kata tuannya, "kalau benar doamu; nanti saya akan beriman
pula dengan ugamamu itu."
"Fimiyun
segera mengucapkan doanya kepada Tuhan. Sebentar itu juga semua korma yang
disembah tuannya itu pun menjadi kering dan mati semuanya.
"Kejadian
ini segera tersiar seluruh pelosok dan orang-orang yang menyembah korma dan
berhala, sama-sama merobah ugama mereka dengan ugama Nasrani yang dibawa oleh
Fimiyun itu. Orang-orang Yahudi pun telah banyak beriman kepadanya, serta
meninggalkan ugama Yahudinya.
"Adapun
Saleh yang menjadi temannya itu, pada mulanya ketika dia berada di tanah Syam,
tempat lahir Nabi Isa al-Masih, pada suatu hari dia melihat Fimiyun sedang
sembahyang di padang pasir, tiba-tiba datang ular besar menuju Fimiyun yang
sedang sembahyang itu. Fimiyun tidak memutuskan sembahyangnya, tetapi terus,
sekalipun ular telah dekat sekali. Saleh lalu berteriak menasihatkan, agar
Fimiyun berhenti sembahyang dan melarikan diri, tetapi Fimiyun tidak berhenti
dan terus sembahyang. Ular besar yang sudah mengangakan mulutnya hendak
menerkam, mati seketika itu juga. Sejak waktu itu, Saleh menyerahkan diri dan
tenaganya kepada Fimiyun. Keduanya pergi dari satu tempat ke tempat yang lain
untuk mengajarkan ugama mereka itu. Keduanya akhirnya dapat ditawan sekelompok
bangsa Arab dan menjual mereka kepada orang penyembah korma, sebagai yang
diterangkan tadi.
"Sekarang
ugama mereka itu telah tersiar luas sekali. Saya datang ke mari agar raja
segera bertindak terhadap ugama banu ini."
Mendengar
cerita itu, bukan main marahnya Raja Zu Nuwas. Dadanya dibusungkannya,
tangannya dihempaskannya. Dengan mengacungkan pedangnya ke udara, dra bersumpah
bahawa dia ketika itu juga dengan segenap kekuatannya akan berangkat ke Najran,
untuk mengajar bangsa Najran yang sudah murtad itu, katanya, agar mereka
kembali masuk Ugama Yahudi, ugama lama yang tidak boleh ditukar-tukar lagi,
katanya. Tidak lama kemudian, daerah Najran yang sempit dan tidak begitu luas
itupun telah terkepung dari segenap penjuru oleh angkatan perang Raja Zu Nuwas.
Kepada seluruh penduduk yang telah beragama Nasrani itu dikeluarkan ancaman,
apakah mereka akan kembali kepada Ugama Yahudi, atau semuanya akan dibunuh
mati, kecil-besar, tua-muda, lelaki perempuan.
Kerana
keimanan yang kuat, penduduk Najran tetap memegang teguh ugama mereka yang
berdasarkan keimanan kepada Allah yang Maha Esa, sekalipun mereka akan dibunuh
mati.
Setelah
Raja Zu Nuwas melihat dan mengetahui, bahawa rata-rata penduduk Najran tidak
mahu tunduk kepada bunyi ancaman-nya, kepada semua tenteranya diperintahkan
menggali lubang besar yang dalam. Di dalam lubang besar itu ditimbunkan kayuapi
yang mersik kering. Dengan kayu bakar yang kering itu, lalu api dinyalakan
sebesar-besarnya.
Penduduk
Najran ditangkap semuanya, dikumpulkan dalam sebuah perkampungan di dekat
lobang besar itu, lalu masing-masing mereka tua-muda, besar-kecil, lelaki
perempuan dengan berganti-ganti dan bergilir diperintahkan terjun ke dalam
lobang besar dengan api yang sedang bergejolak-gejolak itu, untuk menutup
riwayat hidup mereka.
Semua
itu dijalankan oleh penduduk Najran yang beriman itu, dengan tenang dan sabar,
tidak seorang juga yang merasa takut dan sedih. Kerana keimanan yang demikian
matang sempurna, gejolakan api begitu panas, mereka rasakan sebagai angin yang
berhembus sepoi-sepoi bahasa saja. Bahkan mereka berlumba-lumba dan
berebut-rebutan untuk menjatuhkan dirinya masing-masing ke dalam api besar itu;
kerana mereka yakin, bahawa di bawah gejolakan api yang panas itu, telah
menanti Syurga Jannatun-Naim yang dijanjikan Tuhan kepada mereka.
Sedang
Raja Zu Nuwas dengan segala tentera dan pembesar-pembesarnya duduk berbaris di
atas bangku-bangku dan kursi-kursi yang sudah tersedia buat mereka, menonton
bangsa Najran yang sedang mengorbankan jiwanya.
Dengan
senang hati dan tertawa terbahak-bahak, mereka senang melihat orang mati
teraniaya dan merasa senang kerana dengan jalan begitulah katanya, mereka dapat
mempertahankan ugama mereka.
Bangsa
Najran yang berugama Nasrani, musnah semuanya dimakan api. Dalam kampung itu
hanya tinggal beberapa orang yang berugama Yahudi saja, iaitu orang-orang yang
seugama dengan rajanya yang ganas itu. Tetapi mereka tidak tahu, bahawa
cara-cara mereka melakukan keganasan dan mempertahankan ugama mereka itu,
adalah salah. Nanti di akhirat, mereka itu akan dilompatkan Tuhan satu persatu
ke dalam lobang api neraka, sedang bangsa Najran akan menonton dengan riang
gembira di jendela-jendela syurga yang mereka tempati.
BANJIR
BANJIR
Yaman
adalah salah satu dari negara-negara Arab yang tersubur. Banyak turun hujan dan
tanahnya bergunung ganang. Tumbuh di situ berbagai tumbuh-tumbuhan yang jarang
terdapat di negara-negara Arab lainnya. Di daerah Yaman yang subur itu,
berdirilah sebuah negara yang maju dan makmur, yang dinamai Negara Saba'.
Kerana kesuburan tanah dan kepintaran penduduknya negara yang kecil ini,
lama-kelamaan bertambah luas juga daerahnya. Banyak penduduknya, makmur dan
maju dalam segala-galanya. Kota Syirwah yang mulanya kecil dan sepi saja, tidak
lama kemudian dapat mereka jadikan kota besar yang penuh dengan gedung-gedung
dan rumah-rumah yang bagus dan teratur, sehingga kota ini mereka jadikan
ibunegerinya. Kemudian ibunegeri ini berpindah pula ke kota Ma'rib, yang jauh
lebih teratur dan moden daripada kota Syirwah.
Satu
hal yang selalu menjadi masalah sulit bagi teknik bangsa Saba'; iaitu air hujan
yang banyak turun di negeri itu, tidak lama dapat menggenangi negeri mereka,
kerana letak negeri itu yang tinggi. Sebentar saja sesudah hujan-hujan besar
itu, semua air lalu mengalir ke negeri-negeri lain yang berdekatan dengan
negeri Saba', yang umumnya terdiri dari padang pasir. Bila sudah mengalir ke
padang pasir, maka dalam sebentar waktu saja air itu segera lenyap masuk pasir.
Air
hujan yang sangat berguna itu sebentar saja dapat membasahi dan menggenangi
negeri Saba' itu.
Ahli-ahli
pengairan bangsa Saba' tidak tinggal diam. Mereka selalu berfikir dan
berikhtiar, dengan jalan bagaimanakah agar air hujan itu dapat dibendung jangan
lekas mengalir ke daerah padang pasir.
Akhirnya
mereka dapat akal. Antara gunung dengan gunung a mereka timbun hujung dan
pangkalnya, sehingga air hujan tergenanglah di antara dua gunung itu dan air
yang tergenang itu mereka alirkan ke tempat-tempat yang kekurangan air sekitar
negeri mereka.
Setelah
sebuah bendungan ini selesai dikerjakan dan mendatangkan faedah yang sangat
baik kepada kemajuan pertanian dan kemakmuran negeri mereka, lalu dibangun pula
bendungan yang kedua, ketiga dan seterusnya, sehingga dalam beberapa tahun
saja, hampir semua gunung-gunung dan jurang-jurang yang terdapat di negeri
Saba' itu menjadi empangan raksasa yang hebat dan sangat berfaedah,
beratus-ratus buah jumlahnya.
Kemakmuran
dan kesuburan negeri Saba' semakin maju dan semakin kaya raya.
Di
antara empangan yang banyak ini, maka Empangan Ma'riblah yang terbesar dan
terkokoh, sehingga menjadi masyhur sekali di seluruh dunia di kala itu dan
sampai sekarang juga dalam sejarah.
Ilmu
teknik bangsa Saba', lebih-lebih tentang pengairan, semakin meningkat tinggi
yang menyebabkan kemajuan dan kemakmuran negeri semakin bertambah juga. Hampir
setiap pelusok negeri Saba' terdiri dari kota yang cantik dengan rumah dan
gedungnya yang bagus-bagus, dilingkari oleh perkebunan yang luas-luas, penuh
dengan berbagai-bagai tanaman dan tumbuh-tumbuhan, kebun-kebun bunga dan
lain-lainya.
Hasil
bumi negeri Saba' mengalir ke seluruh pelosok tanah Arab dan negeri-negeri
tetangga lainnya, sehingga kota-kota mereka selalu penuh dengan
pedagang-pedagang yang datang dari luar negeri. Bukan saja dari daerah Hijaz,
tetapi pula dari Tanah Syam dan Persia.
Ke
Yaman (Saba') lah tujuan tiap pedagang dan pelancung untuk merasakan enaknya
hawa dan segarnya buah-buahan, apa pula penduduknya yang baik budi, beriman
kepada Allah, selalu hidup dalam aman dan tenteram. Negeri inilah yang
dikatakan Tuhan dalam al-Quran: Baldatun Taiyibatun wa Rabbun Ghafur, iaitu
negeri yang aman dan makmur, serta dilimpahi rahmat Allah.
Tetapi
lama kelamaan keadaan bangsa Saba' berubah. Mereka mulai melupakan Tuhan atas
segala nikmat yang mereka terima itu. Dahulu bibir dan lidah-lidah mereka tidak
sunyi-sunyi mengucapkan syukur dan puji kepada Tuhan, yang telah melimpahi
mereka serta negaranya, dengan rahmat dan nikmat itu. Tetapi sekarang, mereka
seakan-akan tidak kenal lagi kepada Tuhan, hanya kenal kepada hartabenda dan
kemewahan hidup saja.
Pelbagai
kejahatan dan ragamnya mulai bermaharajalela di kalangan mereka, sehingga
keamanan dan ketenteraman selama ini berubah menjadi kacau dan pergaduhan.
Allah
lalu mengutus beberapa orang Nabi dan Rasul, untuk nenginsafkan mereka. Tetapi
semua Nabi dan Rasul itu tidak mereka percayai, malah mereka berpaling tidak
sudi mendengarkan fatwa dan nasihat-nasihatnya.
Setelah
segala nasihat dan fatwa, serta semua tenaga yang dicurahkan para Nabi dan
Rasul itu sudah tidak berguna lagi bagi mereka, maka Allah mengambil jalan
lain, untuk membetulkan kesalahan dan kesesatan mereka. Jalan ini, ialah dengan
mengganti semua rahmat dan nikmat itu dengan seksa dan azab.
Empangan-empangan
yang besar dan kuat yang mereka perbuat dengan susah payah itu, runtuhlah; air
bah mengalir ke kiri dan kanan, menumbangkan semua gedung-gedung dan
rumah-rumah, mendatarkan semua perkebunan dan tanaman-tanaman yang penuh dengan
buah-buahan.
Semua
air bah itu menuju ke padang pasir yang ada di sekitar negeri Saba' dan meresap
di tengah-tengah padang pasir. Negeri Saba' menjadi datar tak berair lagi,
sehingga dalam sebentar waktu saja tanah yang subur dan bergunung-gunung itu
menjadi padang pasir tandus, yang tidak dapat ditumbuhi tanaman-tanaman di
atasnya, selain beberapa macam tumbuh-tumbuhan yang tak menghasilkan buah
apa-apa.
Keadaan
mereka pun kucar-kacir, terdampar sejauh-jauhnya di bawah air bah yang besar.
Penduduk kampung Khassan terdampar ke daerah Syam, penduduk Juzan ke Tihamah,
penduduk Azad ke Amman. Mereka benar-benar kucar-kacir, yang sampai sekarang
hanya tinggal cerita dan riwayatnya saja. Beginilah balasannya bagi sesiapa
yang tidak pandai mesyukuri nikmat dan pemberian Allah terhadap diri, negeri
dan bangsanya. Allah tidak menyeksa manusia, kalau manusia itu sendiri tidak
ingkar terhadap Allah.




